TIGblogs TIG | TIGblogs GROUP TIGBLOGS LOGIN SIGNUP
Indonesia
« previous 15


KeSEMaT   KeSEMaT KeSEMaT's TIGblog
KeSEMaT's profile

Gila! Ini abrasi atau jurang?

Lihatlah foto di samping ini. Foto ini sengaja kami tampilkan untuk memenuhi banyaknya permintaan dari masyarakat yang ingin mengetahui bagaimana kondisi terakhir, abrasi pantai di pesisir Trimulyo, Genuk Semarang. Foto ini diambil oleh KeSEMaT di bulan Juli 2008. Tanpa banyak komentar lagi, Anda bisa melihat sendiri, karena pembukaan lahan dan reklamasi pantai menjadi areal pertambakan dan daerah industri, telah terjadi abrasi pantai yang sangat sangat sangat parah. Bahkan abrasi telah merubah pesisir pantai dan daratan menjadi sebuah jurang kecil nan dalam kurang lebih 2 meter-an! Kalau tak hati-hati, jalan di pesisir Genuk ini, bahkan bisa mengancam jiwa, setiap orang yang lalu-lalang di wilayah ini.

Selanjutnya, yang di atas tanah itu adalah para KeSEMaTERS yang sedang melakukan pekerjaan distribusi bibit ke lokasi penanaman pada saat program Mangrove Restoration 2008: Penyuluhan, Penanaman dan Penyulaman Mangrove, dilaksanakan. Usaha penanaman mangrove yang mulai diinisiasi oleh KeSEMaT untuk melindungi pesisir dan mengurangi dampak abrasi-parah di Genuk ini, kiranya akan mendapatkan tantangan yang sangat berat mengingat abrasi yang terjadi di sana sudah dalam taraf yang sangat mengkhawatirkan.

Namun demikian, pekerjaan sekecil apapun yang telah kami coba untuk lakukan, semoga saja bisa berguna bagi pesisir Genuk, demi “menyembuhkannya” dari abrasi dan ketidakproduktifan tanahnya, karena unsur haranya telah “terserap habis” oleh pertambakan, yang kinipun terbengkalai.

Abrasi, memang sudah begitu “mencengkeram erat”wilayah pesisir di Semarang, ini. Lihatlah kembali foto di atas. Sebelah kiri adalah pertambakan dan sebelah kanan adalah kawasan industri Terboyo Semarang. Tak ada lagi yang namanya sabuk hijau atau green belt yang menurut aturan, seharusnya wajib dimiliki oleh setiap pesisir di Republik Indonesia, ini. Tak perlu ditanya, mengapa sabuk hijau tak pernah dibangun di lokasi ini. Kami kira, Anda juga sudah mengerti sendiri jawabannya.

Kami hanya berandai-andai, kalau saja setiap pesisir pantai di Indonesia seperti ini, bagaimana lagi masa depan pesisir Ibu Pertiwi, yang katanya elok ini (?). Tentu saja, kita tak ingin dicap sebagai bangsa yang tak becus mengurusi wilayah pesisirnya. Jangan sampai, pesisir kita elok, tapi pengaturan wilayah pesisirnya, jadi bahan olok-olok.

August 27, 2008 | 11:08 AM Comments  0 comments



KeSEMaT   KeSEMaT KeSEMaT's TIGblog
KeSEMaT's profile

Sang Plumula Nan Hebat!

Apakah Plumula? Plumula adalah bakal daun-mangrove yang terletak di bagian paling ujung, pasangan daun teratas. Kalau saja Anda jeli, dalam setiap kali program penanaman mangrove selesai dilakukan, di saat daun-daun bibit mangrove mulai layu dan merontokkan dedaunannya, Plumula inilah yang masih hijau, hidup dan tetap bertahan. Plumula, memang ditakdirkan sebagai pasangan daun terakhir, sekaligus indikator bagi hidupnya bibit-bibit mangrove yang telah ditanam. Plumula adalah juga bakal daun yang bertugas menyelamatkan daya regenerasi mangrove agar keberadaannya terus bisa bertahan dan tetap eksis di muka bumi ini.

Lihatlah foto di atas ini. Yang ditunjuk dengan jari telunjuknya-KeSEMaTERS itulah, yang dinamakan dengan Plumula. Anda lihat, semua daun di bagian bawahnya telah layu, rontok dan hilang. Namun, Sang Plumula Yang Hebat, masih nampak tegar berdiri dan hidup, terbungkus dengan daun berwarna coklat sebagai pelindungnya.

Masa-masa 0 sampai dengan 3 bulan setelah ditanam, bibit-bibit mangrove mengalami masa-masa kritis dalam pertumbuhannya. Tak jarang, dari 3000 bibit yang ditanam, hanya 80% saja yang hidup di 3 bulan pertamanya, ini. Lalu, bagaimana caranya mengetahui 20% bibit-bibit mangrove yang gagal tumbuh? Jawabannya, dengan melihat keberadaan Plumula. Walaupun semua bagian bibit mangrove telah layu dan “gosong” terkena sengatan matahari, tapi kalau Plumula masih terlihat hijau, bisa dipastikan bahwa bibit mangrove kita, masih tetap hidup.

Plumula baru akan “beraksi” menunjukkan kehebatannya dalam rentang tiga bulan pertama setelah bibit mangrove ditanam di lapangan. Jeleknya, klaim keberhasilan dan kegagalan penanaman mangrove, selalu dilakukan di tiga bulan pertama ini. Padahal, di tiga bulan pertama inilah, masa-masa bibit mangrove menggugurkan daunnya, untuk “memberikan kesempatan” kepada Plumula dalam menjalankan “aksinya.”

Selanjutnya, bergugurannya dedaunan mangrove di tiga bulan pertamanya ini, diklaim sebagai sebuah usaha penanaman mangrove yang gagal. Padahal yang terjadi tidaklah demikian. Yang sebenarnya terjadi adalah terjadi proses adaptasi di tubuh mangrove, dengan cara menggugurkan daunnya yang diikuti dengan tumbuhnya Plumula menjadi sepasang daun kecil, untuk meneruskan regenerasi hidup bibit-bibit mangrove, tadi.

Jadi, apabila Anda melakukan program pemeliharaan mangrove di tiga bulan pertama, dan melihat bibit-bibit mangrove Anda layu dan mulai menggugurkan daunnya, tersenyumlah! Berarti , proses adaptasi sedang terjadi. Jangan takut, apabila Anda melihat sebuah kuncup kecil di atas batang dan daun bibit mangrove yang layu tadi, berarti bibit-bibit mangrove Anda pasti hidup!

August 26, 2008 | 10:08 AM Comments  0 comments



TammySembiring   TammySembiring Tammy's TIGblog
Tammy's profile

The Prodigal Daughter


I love the parable of The Prodigal Son from The Bible…

Looks like my life’s been like the son on the parable…

I’m still on the journey…

I want to coming home… And I know that Father will welcome me with His wide arms open…

But I still enjoy my journey… and know that I’ve been going so far away from His house… The house of The Truth…

Well… Let see how’s life will bring me to where… (hehe)

PS: Gak tau kisah The Prodigal Son alias Anak Yang Hilang? Read on Lukas 15: 11-32…


August 18, 2008 | 10:08 AM Comments  0 comments



KeSEMaT   KeSEMaT KeSEMaT's TIGblog
KeSEMaT's profile

Menyuluh tak pernah jenuh

Menjadi tenaga penyuluh, itulah pekerjaan kami. Bukan sembarang tenaga penyuluh, melainkan tenaga penyuluh mangrove, yang bagi sebagian orang masih-sangat dipandang sebelah mata. Sebenarnya bukan kaminya (sebagai tenaga penyuluh) yang dianggap “rendah,” melainkan obyek yang kami suluh, yaitu mangrove-nya yang masih saja disepelekan. Kenyataan ini membuat kami sedih dan sangat terpukul. Sebuah kenyataan bahwa di tahun 2008 ini, sebagian besar masyarakat kita masih saja memandang mangrove sebagai sebuah ekosistem tak berguna, sungguh sangat menyesakkan dada kami. Ini berarti, masih banyak sekali, masyarakat kita yang tak tahu mangrove sama sekali.

Padahal, kami sudah mulai menyuluh mangrove dari tahun 2001 sampai dengan sekarang. Dengan pola regenerasi kabinet yang tak pernah putus selalu kami lakukan di setiap tahunnya, pada setiap generasi pula, kami telah menyuluh rata-rata 1000 orang per tahunnya. Jadi, apabila dihitung secara kasar, tujuh tahun terakhir ini, kami telah menyuluh mangrove ke 7000 individu manusia. Tak banyak memang, namun mengingat umur kami yang masih seumur jagung, sepertinya jumlah segitu sudah lumayan banyak.

Fakta tentang masih tak banyaknya masyarakat kita yang mengetahui arti penting mangrove, terbukti dalam sebuah peristiwa tak mengenakkan sewaktu kami telah menyelesaikan pekerjaan kami, sebagai Guru Mangrove bagi Adik-adik kami di lima buah SMA di Semarang. “Road show” pengajaran dan penanaman mangrove dalam program Mangrove Conservation (MANGCON) 2008: Gerakan Bersih Pantai dan Laut (GBPL) hasil kerjasama KeSEMaT dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Pemerintah Kotas Semarang dan LSM BINTARI itu, memang berjalan dengan sukses dan lancar di tingkat pelajar, namun, tidak di tingkat masyarakat sekitarnya!

Kami sangat kaget, saat mengetahui bahwa Avicennia spp yang tumbuh lebat di belakang SMA Sultan Agung yang notebane adalah tempat pengajaran mangrove kami, telah ditebangi. Parahnya, penebangan dilakukan sehari sebelum acara penanaman dimulai. Bayangkan, betapa shock-nya, kami.

Saat kami bertanya kepada seorang bapak yang mengetahui tentang penebangan tersebut, dia menjelaskan bahwa Api-api telah ditebang oleh seorang Ibu-ibu, untuk kayu bakar. Dia juga menjelaskan bahwa warga sekitar telah terbiasa menebangi mangrove untuk keperluan itu. Toh kata dia, Api-api tak ubahnya seperti semak belukar liar yang tak ada gunanya. Daripada mengganggu pemandangan pertambakan, lebih baik ditebang, saja. Astagfirullah!

Kami sadar, bahwa walaupun kami telah berhasil memberikan pengertian tentang mangrove dengan baik kepada para generasi muda, namun tidak demikian di generasi tuanya. Ternyata, masyarakat Jawa Tengah yang belum tahu tentang mangrove masih bejibun. Ini berarti, pekerjaan rumah kami masih banyak, perjalanan kami masih sangat sangat sangat panjang.

Fakta tentang ini, sempat membuat kami agak putus asa. Bagaimana mungkin dengan tenaga dan personil kami yang sedikit ini, kami mampu menyadarkan beribu-ribu bahkan jutaan manusia di bumi ini untuk mulai menyayangi dan mencintai, mangrovenya (?).

Sebuah pertanyaan besar seringkali menggema di benak kami. “Apakah mungkin, kami bisa menyadarkan semua umat manusia di bumi ini untuk mulai menyayangi dan mencintai mangrovenya?” Sebuah kemustahilan untuk mampu memberitahu kepada semua umat di dunia ini akan arti pentingnya mangrove bagi kehidupan mereka, terus saja menghantui kami. Kami rasa, ini adalah sebuah usaha sia-sia yang tak mungkin pernah bisa kami lakukan. Untuk itulah, walaupun kami tahu bahwa putus asa adalah bukan sebuah tindakan yang tepat, seringkali rasa itu bergelayut dalam diri kami.

Namun, mencoba tak mau terlalu larut dengan segala permasalahan ke depan, sebuah idealisme dan tekad baja untuk terus melawan segala rasa keputusasaan itu, tak pernah surut juga, timbul dalam diri kami. Lihatlah foto di atas. Foto ini diambil oleh KeSEMaT tanggal 9 Agustus 2008 di halaman belakang SMA Sultan Agung 3 Semarang, pada saat kami mengimplementasikan program MANGCON) 2008 -GBPL. Kami menyuluh sekitar 500 orang dalam satu hari itu.

Penyuluhan kami adalah tentang bagaimana cara menanam mangrove yang baik dan benar. Dalam satu hari ini, kami menyuluh tiga kali. Pertama, saat kami memberikan briefing kepada para peserta sesaat setelah upacara selesai. Kedua, sebelum para peserta terjun ke lokasi penanaman dan ketiganya pada saat pembersihan dan perapian lokasi penanaman.

Tiga kali penyuluhan ini kami lakukan untuk memastikan bahwa para peserta mengetahui benar apa yang dilakukannya. Banyak kejadian penanaman mangrove yang gagal, hanya karena para penanamnya tak melakukan tata cara penanaman dengan baik dan benar. Sedimen tak ditanam dengan tepat, bibit tak diikat di ajir dengan tali rafia dan tak dilepasnya polybek dari sedimen bibit adalah tiga dari banyak kasus tata cara penanaman yang salah. Kami tidak ingin, hal-hal seperti ini terjadi pula pada mangrove kami, di hari ini.

Di akhir acara banyak peserta yang menjabat tangan kami seraya berkata, “Terima kasih Para Penyuluh Mangrove Yang Tak Pernah Jenuh.” Agak malu, kami pun berkata, “Terima kasih, MANGROVER. Maaf, telah membuat pakaian Anda terkotori lumpur. Maaf juga telah membuat kulit Anda terbakar matahari, perut Anda keroncongan, lidah Anda kehausan, kaki dan tangan Anda tercabik akar-akar mangrove yang ganas. Tapi, yakinlah Tuhan di atas sana tak akan pernah jenuh untuk membalas budi baik kalian terhadap mangrove, di hari ini.”

August 18, 2008 | 9:08 AM Comments  0 comments



tidazstrife   tidazstrife Iswahyudhi's TIGblog
Iswahyudhi's profile

Talking About MDGs (Part 3: End)
Related to country: Indonesia

Translations available in: English (original) | French | Spanish | Italian | German | Portuguese | Swedish | Russian | Dutch | Arabic

I think, I have to read
I think, it’s Yes. Issues are from MDGs is really important, although it’s like so simple because it’s concerned to quantitative. For example, in Education sector, it was fine with 94.7% children were listed in Elementary school. But, when their school had leaky roofs, or just had limited book, and in the end teachers were incompetence so for children who have to go to school had gotten qualified education. Unfortunately, the education target in MDGs have not concerned or studied the quality aspect.

How could be?
The reason is it is more difficult than measuring the quality, although it’s not impossible. You can predict the quality of teachers, pr examination result, but it will be difficult when we measure and get the information of quality. This case brings us to the next hug problem. In big country and coloring, Indonesia. The national rate is not enough. For example, the hope of life in national is in 68 years. But, it is varying between 73 years old in Yogyakarta until 61 years old in Nusa Tenggara Timur. Besides, the province rate doesn’t break the district condition. So, in majority, the MDGs files have a limitation.

So, it’s too useless
Do not take the early decision. MDGs are not about the measurement and rate, but they will push us for doing something real. Preventing the death of mother is more important when we are just counting the rate of mothers died when they are born a child. The important thing is not just counting how many Indonesia’s children which in severe or moderate underweight, but also making sure that all children will get the good nutrient. One of the MDGs’ benefits is the kinds of problems which have been brought to the big attention for all elements, including people in wide. But, the report about the improvement of MDGs in district is also needed.

So, what for the National Report of MDGs is made?
Let’s think this is as the beginning point as a way of introducing the kinds of problems in generally. So, people in all of country can think and find the solutions. A national report can be added in to the international system which has a role to note the achievements of MDGs in whole of the world.

Written by Iswahyudhi

August 11, 2008 | 2:35 AM Comments  1 comments

Tags:


tidazstrife   tidazstrife Iswahyudhi's TIGblog
Iswahyudhi's profile

3rd Goal of MDGs Report in Indonesia
Related to country: Indonesia

Translations available in: English (original) | French | Spanish | Italian | German | Portuguese | Swedish | Russian | Dutch | Arabic

3rd Goal: Promote Gender Equality and Empower Women
Target 4: Eliminating the lameness of gender in elementary and high education, it must be better than in 2005, and this elimination must be going on at least in 2015

The main indicator is the ratio of women and men in elementary, junior high and senior high education. In Indonesia, all of them have been reached with 99.4% of elementary school rate, 99.9% in junior high school, and 100.0% in senior high school, and 102.5% in university.

Second indicator is the ratio of awaken of letters (reading skill) for women to men in distance 15-24 years old. In here, we (Indonesia) have reached the target with ratio 99.9%.

Third indicator is the women contribution in paid, non-agriculture sector. In here, we are far from the equality. The rate is just 33%.

The forth indicator is the proportion of women in parliament where the proportion for now, it is just 11.3%

These all are the forth target for Indonesia toward achieving Millennium Development Goals

Written by Iswahyudhi

August 11, 2008 | 2:29 AM Comments  0 comments

Tags:


KeSEMaT   KeSEMaT KeSEMaT's TIGblog
KeSEMaT's profile

Oleh-oleh dari arisan para Bapak: Pilih bibit atau benih?

Kembali, sebuah “perdebatan seru” mengemuka, pada saat kami para KeSEMaTERS dan KeSEMaT’s Mangrove Volunteer (KeMANGTEER) berkunjung ke rumah nelayan di Genuk, Semarang. Permasalahan klasik pemilihan bibit atau benih dalam pelaksanaan rehabilitasi mangrove di daerah pesisir, kembali muncul, dibahas, dan dipertanyakan. Dalam pertemuan (baca: arisan para Bapak) yang berlangsung tepat di malam Minggu, 2 Agustus 2008, kami yang sebenarnya sedang menjalankan program gerakan moral bertajuk Mangrove Restoration (MANGRES) 2008: Penyuluhan, Penanaman, dan Penyulaman Mangrove, kembali menginformasikan kepada mereka mengenai mana yang lebih baik, benih atau bibit.

Kami sengaja menerapkan konsep “penyusupan” dalam memberikan kampanye mangrove kami, kepada mereka. Kami mengikuti Arisan Bapak-bapak (lihat foto di atas) dulu, sebelum akhirnya kami diberikan waktu sampai dengan dua jam penuh, untuk memberikan kampanye mangrove kami bertema “Kerusakan Mangrove di Trimulyo Genuk.” “Penyusupan” ini, kami rasa lebih efektif daripada kami harus mengundang dan mengumpulkan mereka di suatu tempat di siang hari. Selain lebih akrab, penyampaian materi berupa presentasi dan film mangrove hasil produksi KeSEMaT dengan Rekan-rekan mahasiswa 9NAGA Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (UNDIP), tentunya akan lebih mudah dimengerti dan dipahami. Untuk menunjang presentasi kami agar lebih hidup dan atraktif lagi, dari Kantor KeSEMaT, kami membawa seperangkat peralatan pemutar film dan presentasi lengkap (seperti LCD, LAPTOP dan SOUND SYSTEM-nya).

Setelah kami selesai memutar film dan mempresentasikan slide-slide tentang kerusakan mangrove di daerah mereka, kami selanjutnya berhadapan dengan sebuah gempuran pertanyaan dan wacana tata cara rehabilitasi mangrove dari para Bapak, ini. Untuk menghadapinya, kami berusaha menanggapi kengototan para Bapak nelayan ini, yang seratus persen “mengharuskan” penggunaan benih dalam setiap kali melakukan penanaman di daerah pesisir, dengan sabar. Dengan dalih daya adaptasi benih akan lebih cepat daripada bibit, berulang kali mereka menyarankan kepada kami, untuk mempergunakan benih saja, dalam pelaksanaan MANGRES 2008. Selain itu, mereka juga menambahkan bahwa berulang kali proyek (bukan program) penanaman yang telah mereka lakukan, menunjukkan bahwa walaupun banyak yang mati, benih tetap lebih baik daripada bibit.

Kengototan Bapak-bapak ini, sempat membuat kami khawatir (atau curiga). Kami hanya sedih, apabila sebuah peristiwa “buruk” di Aceh, juga sedang melanda para Bapak, ini (semoga kecurigaan kami salah). Para oknum nelayan dan tenaga penanam bibit-bibit mangrove, bersikukuh meminta kepada Pimpinan Proyek Rehabilitasi Mangrove di Aceh, untuk menggunakan benih daripada bibit mangrove. Usut punya usut, ternyata kengototan ini, berhubungan dengan faktor uang. Kok bisa? Ya, karena apabila semakin banyak benih yang berhasil ditancapkan dalam sehari, maka dalam sehari pula, mereka akan semakin banyak mendapatkan upah. Apa pasal? Karena pembayaran upah penanaman, memang dihitung per satu benih atau bibit yang ditanam, per hari. Jadi, semakin banyak mereka bisa menanam dalam sehari, maka semakin banyak pulalah uang yang bisa mereka “keruk.”

Mengapa mereka “menolak” menanam bibit? Karena selain berat, sudah berakar dan berpolibeg, untuk menanam satu bibit saja, dibutuhkan waktu dan tenaga ekstra besar. Belum lagi, mereka harus memasang ajir juga, dan kemudian wajib mengikatkannya ke bibit-bibit agar bibit tak tumbang diterjang gelombang. Kesimpulannya, terlalu ribet dan banyak makan waktu. Pun, upah yang didapatkan tak akan sebanding dengan pekerjaan berat yang mereka kerjakan. Mengapa? Karena, dengan sedikitnya jumlah bibit yang bisa mereka tanam, maka semakin kecil pulalah pendapatan mereka dalam sehari.

Dari dua “kisah” ini bisa disimpulkan bahwa (1) kalau menggunakan benih, maka benih akan cepat tertanam sehingga menghemat waktu, tenaga dan memperbanyak upah. Sebaliknya, (2) apabila memakai bibit, maka penanaman bibit akan memakan waktu lama, menghabiskan banyak tenaga, dan uang yang didapatkan juga akan semakin sedikit. Orang manapun (yang kurang memiliki jiwa konservasi), tentu saja akan memilih poin 1. (Bagaimana dengan Anda?)

Pengalaman kami di Genuk-Semarang sendiri, sewaktu melakukan program Mangrove Conservation (MANGCON) 2007: Penyuluhan, Penanaman dan Penyulaman Mangrove, menunjukkan bahwa kelulushidupan bibit-bibit mangrove jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan benih. Bahkan, daya adaptasinya terhadap lingkungan juga bisa cepat sehingga dalam satu tahun umurnya, bibit-bibit mangrove sudah bisa bertumbuh kembang dengan baik, dengan kelulushidupan mencapai 80%. Pun, buku-buku rehabilitasi mangrove yang ditulis oleh berbagai peneliti, praktisi dan ahli mangrove juga mengemukakan bahwa kelulushidupan bibit mangrove, jelas lebih tinggi daripada benih. Teori dan pengalaman kami ini, tentunya sangat bertolak belakang dengan wacana dan pengalaman Bapak-bapak nelayan, ini.

Namun, teori tentu saja tak selamanya cocok dengan praktek di lapangan. Berusaha sedikit membenarkan “teori” para Bapak, bahwa KeSEMaT-pun juga seringkali menggunakan benih dalam melakukan usaha rehabilitasi mangrove di pesisir. Di Jepara contohnya, program Mangrove REpLaNT (MR) yang setiap tahun diadakan oleh KeSEMaT di Teluk Awur, juga menggunakan benih sebagai “bahan mentahnya.” Hasilnya? Antara benih dan bibit, kedua-duanya bisa berkembang biak dengan baik bahkan keduanya memiliki kelulushidupan sempurna, yaitu 100%!

Keberhasilan ini, tak lepas dari hasil proses-pra survei sebelum penanaman yang telah bisa diimplemetasikan dengan baik oleh para KeSEMaTERS. Kondisi lokasi penanaman mangrove yang tenang dan cenderung terlindung, dengan gelombang laut yang kecil, plus pola pemeliharaan serta penyulaman mangrove yang benar, adalah beberapa sebab mengapa benih dan bibit mangrove bisa berkembang biak secara maksimal, di Teluk Awur, Jepara.

Penekanan informasi seperti inilah, yang coba kami bagikan kepada para peserta arisan. Bahwa menggunakan benih atau bibit, sebenarnya tak usah terlalu banyak diperdebatkan. Toh, hasil penanaman benih dan bibit mangrove di setiap lokasi, di berbagai daerah menunjukkan adanya sebuah variasi. Artinya, terkadang benih bisa tinggi kelulushidupannya, tapi tak jarang juga bibit memiliki tingkat hidup yang tak juga rendah. Sebuah komitmen untuk menjaga dan memelihara benih dan bibit mangrove-lah yang sebaiknya lebih perlu didiskusikan. Tak peduli menggunakan benih atau bibit, tapi kalau manajemen pemeliharaan dan penyulaman mangrovenya buruk, akan sama saja. Jika pola monitoringnya buruk, kelulushidupan benih dan bibit mangrove, tentunya akan menjadi sangat minimalis, pula. Selanjutnya, kami juga mencoba memberikan penjelasan mengenai sebuah sikap bijaksana untuk tak boleh seratus persen memaksakan diri harus menggunakan benih saja, melainkan harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi di lokasi penanaman.

Arisan Bapak-bapak berlangsung mulai dari pukul 19.00 WIB. Setelah jam dinding menunjukkan pukul 21.30 WIB, kami akhirnya undur diri. Merasa bahwa kami telah memberikan penjelasan yang berimbang, akhirnya kami berpamitan kepada mereka, seraya memohon dukungan dan partisipasi para nelayan di setiap program-program mangrove KeSEMaT, yang dalam beberapa tahun mendatang akan gencar sekali, diimplementasikan di wilayah mereka, ini. Akhirnya, sebuah kesepakatan bersama untuk saling mendukung dan bekerjasama dalam menyelamatkan pesisir pantai Trimulyo Genuk, tercapai sudah. Kini, praktek lapangan-lah yang kiranya perlu dilakukan. Mari kita bersama, menyelamatkan ekosistem mangrove di pesisir Trimulyo. SEKARANG!

August 4, 2008 | 11:08 AM Comments  0 comments



tidazstrife   tidazstrife Iswahyudhi's TIGblog
Iswahyudhi's profile

First Information of IX Bahasa Congress
Related to country: Indonesia

Translations available in: English (original) | French | Spanish | Italian | German | Portuguese | Swedish | Russian | Dutch | Arabic

PUBLIC ANNOUNCEMENT
IX BAHASA CONGRESS
Jakarta, 28 October – 1 November 2008

What have been done in the passed of national evocation of this nation in a century? The raising of independence of struggle organization, Boedi Oetomo, in 1908, he had been raised the awareness of being involved for youth in organization in struggling the independence in Indonesia. Two years later, the born of politic attitude of Indonesian youth was a confession of ‘one land, it is Indonesia, one nation, it is Indonesian, and holding high the unitary language, it is Bahasa’. Ten years passed, the first Bahasa congress had been celebrated in Surakarta in 1938 which the one of recommendation was the making of Bahasa glossaries or terms. Seven years passed, Proclamation of Independence Day was echoed and the next day, Bahasa was declared as the nation language of Indonesia. Second congress of Bahasa was carried out in 1954, in Medan. Next, the third until seventh Bahasa Congress was carried out. Congress will be carried out every five years after it.

In 2008, Pusat Bahasa (PB) will be carried out the Ninth Bahasa Congress where it will be carried out with the 60th anniversary of PB, 80 years of Sumpah Pemuda, 100 years of National Evocation, and Year of Language. In that congress will be discussed about the place, function, and Bahasa, local language, foreign language domains, and also the improvement of Indonesian literature; for teaching Bahasa and its literature, including Bahasa for Foreign Speaker (BIPA); Bahasa test; the improvement of Bahasa; and Laws of Bahasa.

The Ninth Bahasa Congress will be celebrated or carried out in Jakarta, 28 October until November 1, 2008. From this congress, it will be excited by the launching of (1) Indonesian Native Languages Map, (2) The Forth Great Bahasa Dictionary, (3) Thesaurus of Bahasa, (4) Encyclopedia of Bahasa Literature, (5) The Forth Edition of Grammar Book, (6) The Grammar Book of Bahasa for Teacher. Besides, it will be shown in the stage of Bahasa literature/art and exhibition of language and literature.

Terms:
- Pusat Bahasa (PB): Language Centre
- Bahasa: Indonesian Language
- Sumpah Pemuda: Youth Promises
- Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA): Bahasa for Foreign Speaker

Written by:


Iswahyudhi
Bahasa Ambassador 2007