TIGblogs TIG | TIGblogs GROUP TIGBLOGS LOGIN SIGNUP
Indonesia
« previous 15


KeSEMaT   KeSEMaT KeSEMaT's TIGblog
KeSEMaT's profile

Lagi, Dua KeSEMaTERS Meraih Penghargaan Internasional dari BAYER Jerman dan PEMSEA Philipina

Semarang – KeSEMaTBLOG. Pada bulan Juli 2009 ini, lagi-lagi KeSEMaT mencetak prestasi membanggakan berupa penghargaan tingkat internasional karena dua orang anggotanya, yaitu para KeSEMaTERS telah berhasil meraih prestasi internasionalnya. Kedua KeSEMaTERS tersebut adalah Arief Marsudi Harjo – Arief (KAK) dan Sapto Pamungkas – Sapto (Alumni) yang berturut-turut menjadi finalis dalam kompetisi “The Ocean, My Community, The Coast - The East Asian Seas Congress Regional Photo Contest” (EASCRPC) yang diselenggarakan oleh Pemerintah Negara Philipina yang bekerjasama dengan PEMSEA dan “Bayer Young Environmental Envoy (BYEE) 2009” yang diselenggarakan oleh BAYER Jerman bekerjasama dengan United Nations Environment Programme (UNEP).

EASCRPC merupakan kompetisi fotografi internasional yang diadakan dengan tujuan untuk menumbuhkembangkan semangat mencintai alam dan ekosistem pesisir di tiap-tiap negara kepulauan di seluruh dunia terutama di Asia Tenggara. Lomba ini diikuti tak kurang dari puluhan peserta dari berbagai negara seperti Indonesia, Jepang, Philipina, Malaysia, Singapura, Vietnam dan lain sebagainya yang dibagi menjadi tiga kategori, yaitu pemula, hobby dan profesional.

Dalam kompetisi EASCRPC ini, Arief berhasil menjadi finalis setelah menyisihkan pesaingnya dari puluhan negara, dengan karya fotografinya yang berjudul “The Mangrove and The Sunset” – TMTS - (lihat foto Arief: kanan bawah dan hasil fotografinya: kiri bawah) untuk kategori pemula, sehingga mendapatkan hadiah berupa pena dan tas eksklusif dari PEMSEA Philipina serta berhak untuk maju ke babak penjurian selanjutnya. Foto TMTS ini juga akan dicetak dalam Kalender PEMSEA 2009, Majalah Tropical Coast International, dan dipublikasikan dalam Website PEMSEA serta menjadi salah satu fotografi yang dimasukkan dalam setiap souvenir Seminar Internasional PEMSEA tentang Pesisir yang akan diselenggarakan oleh Pemerintah Philipina di bulan November 2009, mendatang.

Selanjutnya, BYEE merupakan program tahunan yang diadakan oleh BAYER Jerman bekerjasama dengan UNEP. Program ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada kaum muda cemerlang di Indonesia, yang memiliki kepedulian nyata terhadap lingkungan hidup serta memperlihatkan komitmen tinggi terhadap pelestarian lingkungan untuk mempelajari teknologi, fasilitas dan praktik-praktik yang berkaitan dengan perlindungan lingkungan, yang saat ini tersedia di Jerman.

Setelah di tahun 2009, Muhamad Ikhsan Sri Hartadi (Alumni) berhasil menjadi Finalis BYEE 2008, kini Sapto (lihat foto Sapto: kanan atas dan sesaat setelah wawancara 12 besar di Kantor BAYER Jakarta: kiri atas) mencapai prestasi yang sama dalam BYEE 2009. Setelah berhasil menyisihkan pesaingnya dan terpilih menjadi 30 besar, Sapto kembali berhasil menyisihkan para mahasiswa dari berbagai Universitas dari seluruh Indonesia, seperti Prasetya Mulya Business School, Institut Teknologi Sepuluh November, Institut Teknologi Bandung, Universitas Brawijaya, Universitas Andalas, Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Tanjungpura, Universitas Jember, Institut Pertanian Bogor, Universitas Hasanuddin, Universitas Paramadina, Universitas Sanata Dharma, Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Katholik Soegijapranata dan Universitas Trunojoyo, untuk kemudian masuk menjadi finalis 12 besar.

Kedua belas finalis BYEE 2009 berasal dari UNDIP yang satu-satunya diwakili oleh Sapto Pamungkas, Institut Teknologi Bandung, Prasetya Mulya Business School, Universitas Indonesia, Universitas Tanjungpura, Universitas Jember, dan Institut Pertanian Bogor. Setelah terpilih menjadi finalis BYEE 2009, Sapto yang mengusung tema proposal-mangrove berjudul “Mangrove Camp: How to be a Farmer of Mangrove, a Producer of Mangrove Soap and a Chef of Mangrove Fruits” akan segera mengimplementasikan program Mangrove Camp di Mangrove REpLaNT (MR) 2009 yang akan diselenggarakan oleh KeSEMaT pada tanggal 24-26 Juli 2009 di Teluk Awur, Jepara. Setelah itu, Sapto juga akan mengikuti ECOCAMP sebagai salah satu rangkaian BYEE di Bogor pada bulan Oktober 2009, mendatang.

Atas prestasi kedua KeSEMaTERS ini, Keluarga Besar KeSEMaT dan Civitas Akademika UNDIP mengucapkan selamat, dukungan penuh dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Sapto dan Arief yang telah berhasil mengharumkan dan mengangkat nama KeSEMaT, UNDIP dan tema mangrove ke dunia internasional sehingga salah satu moto KeSEMaT, yaitu KAMPANYE, lagi-lagi tercapai dan mencapai keberhasilan tertingginya. Salam MANGROVER!

July 3, 2009 | 10:07 AM Comments  0 comments

Tags:


KeSEMaT   KeSEMaT KeSEMaT's TIGblog
KeSEMaT's profile

Dua Pendekatan Proyek Rehabilitasi Mangrove

Semarang – KeSEMaTBLOG. Apabila kita bekerja dalam dunia mangrove, maka setidaknya terdapat dua buah pendekatan dalam proyek rehabilitasi mangrove yang ada di negeri ini. Ada satu institusi yang seringkali menjalankan proyeknya dengan cara menyosialisasikan anggarannya terlebih dahulu, baru kemudian memberitahukan konsep proyek rehabilitasi mangrovenya ke masyarakat. Sementara itu, ada juga institusi lainnya yang lebih memilih untuk mengedepankan program sosialisasinya terlebih dahulu, baru kemudian menginformasikan tentang anggarannya.

Tak berusaha untuk membandingkan mana yang lebih baik, memang kedua konsep ini, sejatinya sah-sah saja apabila diterapkan. Toh, tujuan akhirnya adalah sama, demi menyejahterakan kehidupan masyarakat pesisir kita.

Namun, kiranya perlu diingat bahwa apabila pilihan pertama yang dijalankan, maka sebuah kekhawatiran akan adanya ketidaktulusan dalam menjalankan proyek rehabilitasi mangrove, kecuali karena uang semata, kiranya patut dicatat dengan tinta merah. Anggaran dana yang dilontarkan duluan, agaknya akan menjadikan sebuah iming-iming besar yang bisa saja mengaburkan jiwa-jiwa swadaya masyarakat pesisir.

Hal seperti ini, dalam jangka panjang ditakutkan akan bisa merubah persepsi masyarakat akan pentingnya sikap berswadaya dan bergotong royong dalam mengelola kawasan pesisirnya. Padahal, setiap kali diadakan, tujuan utama proyek rehabilitasi mangrove adalah untuk memupuk jiwa gerakan moral masyarakat pesisir kita agar mau dan mampu berusaha mengelola kawasan pesisirnya dengan usahanya sendiri tanpa terlalu menggantungkan bantuan orang lain.

Selanjutnya, pilihan kedua, sepertinya lebih tepat untuk dilakukan karena sangat membuka kesempatan bagi hadirnya sebuah inisiatif dari warga pesisir sendiri untuk mau bekerja secara mandiri tanpa mengandalkan uang semata. Tanpa diiming-imingi dengan anggaran, sebuah data tentang kondisi ekosistem mangrove yang ada di daerah mereka yang disosialisasikan terlebih dahulu, diharapkan bisa memancing reaksi mereka untuk bersikap proaktif dalam memecahkan permasalahan sehingga timbul rasa tanggung jawab terhadap alam pesisirnya dengan usahanya sendiri.

Sebuah kasus yang bisa dipastikan terjadi apabila pilihan pertama kita ambil adalah setelah proyek rehabilitasi mangrove selesai dijalankan - misalnya tiga tahun - maka, masyarakat dikhawatirkan akan malas menjaga kelulushidupan bibit-bibit mangrovenya karena dana sudah habis untuk membiayai jasa mereka dalam memelihara bibit-bibit mangrove, tersebut.

Sebaliknya, apabila pilihan kedua yang dipilih, maka walaupun dana telah habis untuk membayar honor warga dalam menjaga mangrove-mangrovenya, maka hal ini tidaklah menjadi sebuah masalah, karena warga bisa meneruskan program pemeliharaan mangrovenya secara mandiri dengan usahanya sendiri.

Pertanyaannya sekarang, pendekatan proyek rehabilitasi mangrove manakah yang akan kita pilih (?). Kami rasa, Anda sendiri sudah mengetahui mana pilihan yang lebih bijak. Salam MANGROVER!

July 3, 2009 | 9:07 AM Comments  0 comments

Tags:


denmas   denmas felix dwi agung widodo's TIGblog
felix dwi agung widodo's profile

let's learn about Dugong
Related to country: Indonesia

Translations available in: English (original) | French | Spanish | Italian | German | Portuguese | Swedish | Russian | Dutch | Arabic

Duyung - Dugong
To know about Duyung
by FDA Widodo

Duyung, Who is that?

Duyung or the Dugong in foreign language is one of the mammals that live in the sea than like the Lumba-lumba and Pope. There are also animals that is almost similar to Duyung, but he lives in the river waters, he was known as the Pesut or Orcaella brevirostis. The area of Pesut living in rivers like the river in East Kalimantan (Pesut Mahakam is located in the Mahakam River, Kalimantan). While the language in which Duyung (Dugong dugong), marine mammals are included in the family Dugongidae of Sirenia order.

Where can be found the Dugong?

Dugong or Duyung spread from Africa to the coast of Papua New Guinea, including them in Southeast Asia and Australia in the North. In Indonesia alone, Duyung spread from Sumatra to the East Kalimantan region, including South Sea of Java, Nusa Tenggara, Sulawesi, and North Maluku, Papua (Cenderawasih Bay) and the Aru Islands in the South Moluccas.

How Duyung status now?

Based on the regulations of Law No 5 / 1990, Duyung is one of the protected marine mammals and existence has been rare. Therefore, those who violate this rule, then akan dipenjara for 5 years or fine of Rp 500 million.

How is actually of Duyung behaviors?

Duyung is a sea mammal. Although most of his life in the sea water and breathe with lungs, Duyung able to dive in the water for almost a basic 15 minutes. Weight of adult Duyung itself reached 400 kg with a body length of up to 3 meters. Duyung is herbivora animal (plant eater). Main feed is yet Duyung (seagrass), which many found in the area of dunes coastal. Duyung is also a nocturnal animal (active at the night). Duyung was on adult age 9-10 years old, he will be pregnant soon and bear children was always 1. While the distance to both the first pregnancy takes 3 - 7 years. So, it is quite difficult to Duyung Maintenance. Duyung female who gave birth to children will continue to maintain and care for the baby at a time until children aged 2 - 3 years. Duyung will continue it living up to reach the age of 70 years.

Whether this present condition in Indonesia, will it support life of Duyung?

As a result of the development of the region and the increasing number of people in Indonesia have also resulted in increased demand for housing as a place to live. Along with that, does not understand the concept of sustainable development and coastal regions are still many seagrass growth that must be destroyed because of the beach hilling or more often called 'reclamation'. If the lack of which have yet Padang in Indonesia, the indirect Duyung will be very existence threatened. Hopefully the development of current and also to the future get be more prudent.

Reading list:

http://marufkasim.blog.com/368507
http://library.thinkquest.org/26184/dugong.htm
http://www.kutaikartanegara.com/pesut.html

July 1, 2009 | 6:05 PM Comments  0 comments

Tags:


denmas   denmas felix dwi agung widodo's TIGblog
felix dwi agung widodo's profile

let's learn about Acanthaster planci
Related to country: Indonesia

Translations available in: English (original) | French | Spanish | Italian | German | Portuguese | Swedish | Russian | Dutch | Arabic

The Crown of Thorns Starfish
Overview of Crown of Thorns Starfish
by FDA Widodo

Is it Crown of Thorns Starfish actually?
Wool is one of the thousand kinds of sea animals from the Sea of Stars is the largest among the other types of Sea Stars. Thousand wool or term in the original Crown of Thorns Starfish existence recorded for the first time by George Rumphius year 1705 then by Corolus Linaeus (Mr. Taksonomy) are named Acanthaster planci.

While the body has coloring of thorns is quite diverse. It Can be found in coloring of the Crown of Thorns Starfish were Blue, Purple, Green, and Grey. In other countries such as Thailand, the color tends Crown of Thorns Starfish to Red-Gray and the same is also found in Australia (The Great Barrier Reef), but were found different in Hawaii, Crown of Thorns Starfish tend Green and Red color. Although it has a diversity of color, but for its name still have only one name, Achantaster planci.

Why do Crown of Thorns Starfish have thorns?

In addition to have color variation, Crown of Thorns Starfish's variation also has a number of arms was between 8 - 21 pieces arms, the variations madreporit 3 - 16 units with the anus is also varied (1 - 6 pieces). Meanwhile, skin the body itself consists of a matrix material Magnesium Calcite. Above the surface of the skin that, thorns grow in the number of lots and tuck in almost all the surface of the skin. This is a form of their defendences to be against their predators. Precisely at the spine a piece of the skin, there are poisons that are anti predator. Poison itself is a form of protein which is often called the substance saponen. In humans that are accidentally exposed to the spine will cause pain that extraordinary, tickles or a blister on the skin of a Crown of Thorns Starfish's punctured .

Just as well as hair, thorns grow in the Crown of Thorns Starfish sweep from their base start. This increase followed by a long dark thorn from the base to tip, so that the spine can be seen on the color difference between dark - bright enough light. The coloring of dark-light is an accumulation associated with substance Crown of Thorns Starfish's thorns saponen.

How do the Crown of Thorns Starfish breed?

At Crown of Thorns Starfish are divided into male and female is not known so that the feathers of a thousand hermaprodit. Thousand feather weight of adult females 0.5 - 4 kg is able to produce eggs of 4-6,5 million eggs to the size reached 0.2 mm. its mating occurs outside the body itself, namely the male will release sperm that reach the size of 0.5 mm in water and also be followed by the female with eggs. Many experts argued that if the process of fertilization occurs outside the body (external) between Crown of Thorns Starfish male and female is influenced by the geographical situation. In the northern hemisphere occurs in May-July and in the southern hemisphere in November - January. However, not much known to the Equator itself.

How was the Crown of Thorns Starfish's growth ?

After the egg and sperm meet, the Crown of Thorns Starfish will be experienced two phases of growth in his life, namely:
1. Plankton phase of up to 16 days and be followed a metamorphosis.
2. Post-metamorphosis phase which is the phase to Crown of Thorns Starfish young born.

After age 2 years, the Crown of Thorns Starfish has become a young parent and ready to perform Maintenance as preceding.

However, the growth of Crown of Thorns Starfish not be separated from environmental factors place to live. Tolerance limit of maximum temperature alone is 33 degrees C and minimum 14 degrees C. Meanwhile, the growth speed of the normal reach 26 mm / month for individuals who still eat seaweed (algae), and will grow quickly when Crown of Thorns Starfish be as a coral predator has begun.

Where does the Crown of Thorns Starfish lives?

Thousand feathers can be found in areas that have coral reef area and wide drifting relatively protected from strong waves. Usually found in the depth of 2 - 6 meters (vertical distribution of), but in the Great Barrier Reef can be found up to 65 meters depth!. Crown of Thorns Starfish have in a unique way to treat the body itself, this is closely associated with the regeneration rate. If Crown of Thorns Starfish lose a third of her body, it will quickly recover as usual. For example, if their hands be broke of, then dropped out of the section will grow back with a speed of 25 mm / month.

Whom is the enemy of Crown of Thorns Starfish's natural?

Although most do not have a predator because there was thorns with saponen on all their body, but Crown of Thorns Starfish also have some natural enemies. In the phase plankton, Crown of Thorns Starfish when eat soft coral and massive coral, they will be the food of coral fish such as Chromis dimidiata. At Crown of Thorns Starfish be a young form, will be a prey of Coral Shrimp (Hymenocera picta), Lobster Panulirus penicillatus, and when the adults will be hunted by the type of worms Pherecardia striata with reef fish species Arothon hispidus, and the type of moluska Charonia tritonis. Almost 5 - 6% Crown of Thorns Starfish deaths caused their predators, while the main cause is the disease (phase planton and young).

Why did a Crown of Thorns Starfish become outbreak?

Due to environmental resources to support the weak, then is not marvel if the population is now experiencing Crown of Thorns Starfish exploded anxious enough. This has caused the death of coral reefs in the area of coral reef ecosystems by increasing the result of the Crown of Thorns Starfish.

How do we control them?

Various ways have been made to control the outbreak of Crown of Thorns Starfish, among others, with animals killed at this place the way the body slit-less minimum 4 parts. There was also a way of water and then buried alive in sand. While the third way by using the concentrated liquid of cupri sulphate with doses up to 10 ml / tail as been done in Australia Great Barrier Reef when the population over Crown of Thorns Starfish. But in Indonesia itself?


Reading list.
Public Awareness About Coral Reefs (The Destruction of Coral by Suharsono in Indonesia (LIPI, Jakarta).

July 1, 2009 | 5:59 PM Comments  0 comments



KeSEMaT   KeSEMaT KeSEMaT's TIGblog
KeSEMaT's profile

KeSEMaT Menyosialisasikan Mangrove REpLaNT 2009 ke Mahasiswa Ilmu Kelautan UNDIP

Semarang – KeSEMaTBLOG. Pada tanggal 28 Juni 2009, KeSEMaT telah melakukan sosialisasi Mangrove REpLaNT (MR) 2009 kepada para mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan (JIK) Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang. Sosialisasi dimulai pada pukul 09.30 WIB – 10.00 WIB. Pada kesempatan ini, KeSEMaT diwakili oleh Oky Yuripa Pradana (Anggota), Tutus Wijanarko (Anggota), Abdul Muis (Anggota), Afirman Karyono (Anggota), Hilyati Fajrina (Anggota) dan Aurora Hanifa. Sosialisasi dilakukan di ruang kuliah mahasiswa JIK UNDIP lantai III.

Sosialisasi diawali dengan kata sambutan dari KeSEMaTERS yang kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi berupa informasi MR 2009. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan tanya jawab seputar MR 2009, berikut tata cara pendaftarannya baik secara langsung maupun online di internet. Dalam kesempatan ini, para mahasiswa JIK UNDIP selaku tuan rumah, menyambut baik penyelenggaraan MR 2009 dan menyatakan kesanggupannya untuk berpartisipasi dalam MR 2009 yang akan dilaksanakan pada tanggal 24 – 26 Juli 2009 di Teluk Awur, Jepara.

June 30, 2009 | 8:06 AM Comments  0 comments

Tags:


KeSEMaT   KeSEMaT KeSEMaT's TIGblog
KeSEMaT's profile

KeSEMaT Menghadiri Sosialisasi PNPM M-KP DKP Semarang dan CV Nirmana di Tugurejo

Semarang – KeSEMaTBLOG. Pada tanggal 29 Juni 2009, KeSEMaT menghadiri acara Sosialisasi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Kelautan dan Perikanan (PNPM M-KP) yang diinisiasi oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pemerintah Kota (PEMKOT) Semarang, bekerjasama dengan CV Nirmana Semarang selaku pihak Rekanan. Acara dilaksanakan di Kantor Kelurahan Tugurejo Semarang, mulai pukul 19.00 WIB - 23.00 WIB.

Pada kesempatan ini, KeSEMaT diwakili oleh Oky Yuripa Pradana (Anggota), Faradhian Fahmi (DP), Arief Marsudi Harjo (KAK) dan Aris Priyono (DK).

Sosialisasi diawali dengan kata sambutan dari Kepala Dinas DKP PEMKOT Semarang, Direktur CV Nirmana dan presentasi materi dari DKP PEMKOT Semarang dan CV Nirmana. Setelah presentasi selesai, acara dilanjutkan dengan tanya jawab dan pembentukan kelompok kerja PNPM M-KP di wilayah Tugurejo, Semarang. Sosialisasi dihadiri oleh kurang lebih 30 orang warga Desa Tugurejo dan para tamu undangan.

Dalam kesempatan ini, KeSEMaT yang hadir selaku tamu undangan memberikan informasi kepada CV Nirmana mengenai kondisi mangrove di Tugurejo yang akan dijadikan daerah percontohan program nasional PNPM M-KP 2009. Sebuah penjajakan kerjasama bersama antara CV Nirmana dengan KeSEMaT sangat dimungkinkan terealisasi, untuk menyukseskan program PNPM M-KP 2009, ini.

June 30, 2009 | 8:06 AM Comments  0 comments

Tags:


KeSEMaT   KeSEMaT KeSEMaT's TIGblog
KeSEMaT's profile

KeSEMaT dan ASTRA Semarang Melakukan Penanaman Mangrove di Desa Tapak, Semarang

Semarang – KeSEMaTBLOG. Pada tanggal 27 Juni 2009, KeSEMaT dan FIF ASTRA Semarang, telah melakukan penanaman sebanyak 2000 bibit mangrove di Desa Tapak, Tugurejo - Semarang. Kegiatan ini diselenggarakan atas kerjasama antara FIF ASTRA Semarang dengan KeSEMaT. Turut serta dalam acara ini, yaitu perwakilan dari Yayasan BINTARI, kelompok tani nelayan dan petambak setempat, kelompok mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Green Community) dan masyarakat setempat.

Pada kesempatan ini, KeSEMaT diwakili oleh Indriatmoko (Presiden), Farhan Pramudito (MENPORSI), Abdul Rohman Zaky (MENDIKTAN), Oky Yuripa Pradana (Anggota), Yulia Ulfah (Anggota), Faradhian Fahmi (DP) dan Sapto Pamungkas (Alumni).

Acara dimulai pada pukul 08.00 WIB dengan pembukaan acara yang dibuka oleh Pimpinan dan Manajer FIF ASTRA, yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari KeSEMaT, BINTARI dan masyarakat Desa Tapak. Acara selanjutnya adalah doa bersama dan pengarahan tata cara penanaman mangrove yang dilakukan oleh KeSEMaT diwakili oleh Sapto Pamungkas (Alumni), supaya dalam penanaman bibit mangrove bisa dilaksanakan dengan baik dan benar. Hal ini, tentunya dilakukan agar bibit mangrove yang ditanam bisa mempunyai kelulushidupan yang tinggi.

Jenis mangrove yang ditanam dalam acara ini yaitu Rhizophora mucronata dan R. apiculata. Penanaman dilakukan di sepanjang kanan-kiri sungai yang mengarah ke laut sepanjang kurang lebih lima ratus meter. Karena begitu banyaknya peserta yang ikut berpartisipasi dalam acara ini, yaitu sekitar tujuh puluhan peserta yang begitu antusias dalam melakukan penanaman, maka penanaman 2000 bibit mangrove dapat terselesaikan dalam waktu tiga jam, yaitu pukul 11.00 WIB.

Setelah penanaman selesai, acara dilanjutkan dengan istirahat, bersih-bersih dan makan bersama. Selesai istirahat, FIF ASTRA, KeSEMaT dan BINTARI menyempatkan diri untuk melakukan survei ke luar tambak mengarah ke pantai yang sudah hilang dengan menggunakan transportasi perahu yang telah disediakan oleh warga setempat. Survei ini dilakukan dalam rangka penjajakan kerjasama ke depan, antara tiga institusi ini, di masa mendatang.

Di dalam perjalanan menyusuri sungai menuju ke laut, terlihat tambak-tambak yang dahulunya tidak terendam oleh air laut sekarang sudah mulai terendam oleh air laut ketika pasang. Hal ini karena daerah tambak tak terlindungi dengan hutan mangrove sehingga gelombang laut dengan leluasa merendam dan merusak area pertambakan. Maka, program penanaman mangrove yang telah dilakukan ini, bertujuan untuk menanggulangi hal-hal tersebut, di atas.

Rekomendasi dari kegiatan ini adalah sebuah harapan agar lebih banyak lagi pihak-pihak swasta yang mau peduli terhadap lingkungan khususnya dalam hal penanaman dan pemeliharaan tumbuhan mangrove sehingga dapat mengatasi masalah-masalah lingkungan yang terjadi saat ini dan untuk yang akan datang. Acara diakhiri dengan foto bersama oleh FIF ASTRA, KeSEMaT, BINTARI, para peserta penanaman mangrove dan warga Desa Tapak, Tugurejo - Semarang.

June 27, 2009 | 11:06 AM Comments  0 comments

Tags:


satucita   satucita Joko Guntoro's TIGblog
Joko Guntoro's profile

Asuransi: Investasi Sekaligus Menalangi Bencana

Oleh : Joko Guntoro
Ketika saya duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar, waktu itu tahun 1991, ayah saya terkena serangan stroke. Selama lebih kurang dua minggu ia dirawat di Rumah Sakit PTPN 1 Langsa. Dikarenakan tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan, kemudian keluarga mencari berbagai cara untuk menyembuhkannya di luar praktik kedokteran. Termasuk cara pengobatan [...]

June 27, 2009 | 9:06 AM Comments  0 comments

Tags:


tytaniuz   tytaniuz tytan's TIGblog
tytan's profile

by Me Tytaniuz

Voice role in a god of love in the wake of the human heart. Whether or not in the know. Hearts of the people there. Is that in the name of a God of majesty,,,destiny, or what is its name.
But we must believe god is the love in our lives.We are never able to translate your destiny as a god with a human destiny to write your own secret.And we must believe destiny is written in the right god to us......
believe in me .... you will not lose

June 27, 2009 | 7:06 AM Comments  0 comments

Tags:


KeSEMaT   KeSEMaT KeSEMaT's TIGblog
KeSEMaT's profile

Abrasi Pantai Teluk Awur Jepara: 3 Meter Setiap Tahun!

Jepara – KeSEMaTBLOG. Abrasi Pantai Teluk Awur Jepara: 3 Meter Setiap Tahun! Tentunya, kabar ini bukanlah isapan jempol belaka. Sebuah penghitungan telah dilakukan oleh para KeSEMaTERS dengan cara membandingkan peta topografi tahun 1963 dengan tahun 2001. Hasilnya, selama kurun waktu 38 tahun itu, didapatkan angka abrasi sebesar 110,23 meter. Dan, apabila angka ini dirata-rata, maka mulai dari tahun 1963 sampai dengan tahun 2001, abrasi yang telah terjadi adalah sejauh 2,9 (3) meter per tahun.

Anda bisa bayangkan sendiri, pesisir pantai Teluk Awur Jepara itu, selama ini telah terkikis oleh abrasi selebar 3 meter per tahun. Sungguh, sebuah fakta yang sangat mengerikan! Padahal, di tempat ini, tumbuh berbagai flora dan fauna mangrove yang sangat penting demi menjaga keseimbangan ekosistem pesisir yang masih tersisa di sana.

Untunglah, abrasi sebesar itu, dapat ditangkal dengan rapatnya perakaran vegetasi mangrove yang tumbuh lebat di sana, berkat program-program penanaman mangrove setiap tahun, yang dilaksanakan oleh KeSEMaT mulai dari tahun 2003 sampai dengan sekarang (2009). Kami tak bisa membayangkan, bagaimana jadinya apabila KeSEMaT tidak “mencuri start” untuk melakukan inisiasi penanaman mangrove massal di setiap tahunnya, yang melibatkan ribuan bibit dan ratusan orang. Maka, bisa jadi di tahun 2009 ini, kondisi pantai Teluk Awur Jepara itu, tak bisa lagi dinikmati keindahannya. Namun, untunglah hal yang tersebut terakhir ini, tidak pernah terjadi.

Namun begitu, sebenarnya kami sangat mengkhawatirkan kondisi akar-akar Rhizophora yang terletak di bagian paling depan, pantai Teluk Awur, itu. Kami lihat, akar-akarnya sudah banyak sekali yang patah dan “rontok,” terterjang gelombang laut yang sangat dahsyat. Kami berharap sembari terus berdoa, semoga saja, akar-akar mangrove “Rhizophora-depan” ini, bisa terus kuat dalam menahan hempasan ombak yang bertubi-tubi.

Dan, selain terus bekerja menanam ribuan bayi mangrove lagi di sekitarnya, kami juga terus memujaNya agar menumbuhkan “dengan cepat” ribuan batang-batang mangrove muda yang ada di belakang “Rhizophora-depan” supaya bisa membantunya dan siap menggantikannya dalam meredam gelombang dan membuat daratan baru, sewaktu-waktu ajal “Rhizophora-depan,” dijemput olehNya. Dengan demikian, harapan agar persentase abrasi yang 3 meter per tahun bisa dicegah lajunya, akan semakin besar dan besar, lagi. Amin. Kami mohon doa dan dukungan dari semua pihak. Salam MANGROVER!

June 26, 2009 | 12:06 PM Comments  0 comments

Tags:


KeSEMaT   KeSEMaT KeSEMaT's TIGblog
KeSEMaT's profile

KeSEMaT dan ASTRA Semarang Mendistribusikan Bibit Mangrove ke Desa Tapak Semarang

Semarang – KeSEMaTBLOG. Pada tanggal 26 Juni 2009, KeSEMaT dan CSR ASTRA Semarang, telah melakukan pendistribusian bibit mangrove ke Desa Tapak, Semarang. Pendistribusian bibit mangrove ini, dilakukan dalam rangka persiapan program penanaman mangrove yang diinisiasi oleh ASTRA Semarang dengan pendampingan dari KeSEMaT, yang akan dilaksanakan pada tanggal 27 Juni 2009, mulai pukul 08.00 WIB.

Pendistribusian bibit mangrove dimulai pada pukul 08.00 WIB – 19.00 WIB. Pada kesempatan ini, KeSEMaT diwakili oleh Arief Marsudi Harjo (KAK) dan Dhira Kurniawan Saputra (Alumni). Sementara itu, dari pihak ASTRA, diwakili oleh Bapak Heru dan beberapa personil CSR ASTRA.

Pendistribusian bibit mangrove diawali dengan pembelian bibit mangrove jenis Rhizophora spp dan Avicennia spp, berikut ajirnya ke petani mangrove setempat, yang kemudian diikuti dengan pendistribusiannya dengan menggunakan dua buah mobil ke Desa Tapak, Semarang. Prosesi pendistribusian ini, tak hanya dilakukan oleh KeSEMaTERS dan CSR ASTRA saja, melainkan juga melibatkan masyarakat sekitar lokasi dan beberapa petani tambak di Desa Tapak.

Pelibatan masyarakat ini, dirasa sangat perlu oleh KeSEMaT, demi menjaga keberlangsungan dan kelulushidupan bibit-bibit mangrove setelah dilakukan seremonial penanaman yang akan dilaksanakan pada tanggal 27 Juni 2009. Direncanakan, pembukaan penanaman mangrove akan dihadiri oleh berbagai pihak seperti KeSEMaT, ASTRA, Yayasan BINTARI, para petinggi Desa Tapak, LSM setempat, para petani tambak Desa Tapak dan masyarakat sekitar.

June 26, 2009 | 12:06 PM Comments  0 comments

Tags:


tytaniuz   tytaniuz tytan's TIGblog
tytan's profile

MyPicture


June 26, 2009 | 10:06 AM Comments  0 comments

Tags:


tytaniuz   tytaniuz tytan's TIGblog
tytan's profile

SnapShoot Google

Get the My Phozi Snapshot! widget and many other great free widgets at Widgetbox!

June 26, 2009 | 10:06 AM Comments  0 comments

Tags:


tytaniuz   tytaniuz tytan's TIGblog
tytan's profile

a lifelong romance


Make can be a fun activity, but it can also become a bore. Not only the style make variations, but the mood the couple who are good or not also affect the condition.

to overcome the tedium in the make can be done in various ways, such as creating atmosphere rileks, with bath, massage or intimate to the pair before the core begins.

Nah, for you who want to make horrid seething again, no one to follow the guidelines presented Askmen following:

Enjoy the exciting adventure in the hotel

If you and your partner always make the event in the same place, of course, boredom will wrap both of your hearts.

Make the action in different locations can given special love of adventure. By visiting some interesting sites related to sex, such as going to other cities who have never visited, to enjoy the beautiful beach, or go to the hotel.

When you wrestle in the middle of both of the hotel bed, put the bill "do not disturb the" in front of the door. Nota sensation, and capable fire passionate sex you and your partner being suppressed.

Spontaneous attacks which bedevil

Spontaneously attack is the key to success in the main have sex in bed. For that, you should not wait stimulus sex couples ask first. However, should giving action quickly and make the point
sensitive. This action not only guaranteed to create happy couples, but also asleep with romantisme that he had never felt before.

Design romantic dates for two

Although the love affair has long been built, does not mean you and your partner do not need a spray-tempt to deal sprinkling bed. When the boredom, then you can set back the schedule dates, both of which ended with intimate relationships.

For that, you both can plan your desired dates and book a romantic place. When trying to enter the room, opened the door for him, a wine and food cover, and hold hands to beckon you make the right invite him/her.

Try a new adventure in bed

Trust, there are many things you can do together. One of them perform at a new adventure in action in bed. If you want to give a different atmosphere when dealing with intimate, then you can bring a tool bantu sex (if he want it si) in the event make this time. You can also use the whip with bermanuver or sprinkle the body with wax candles.

This is guaranteed to be interesting for the shock to him, and you can experience exciting adventure together.

Enjoy exciting activities together

Closing action can be exciting adventure with the other. Such, learning cooked together, take a yoga class two, or learn dance together. At the end of the event, you can take immediately paired off in bed.

June 26, 2009 | 10:06 AM Comments  0 comments

Tags:


tytaniuz   tytaniuz tytan's TIGblog
tytan's profile

other in the eyes .... another fact


first arising in the heart when I see this picture is.... wow ... harmonious once.
but later I know that they are famous band in Indonesia, The Virgin. And they could do both..
oh God.....

I love this kind of
he he....

June 26, 2009 | 9:06 AM Comments  0 comments

Tags:


« previous 15



Change Language


Categorized Archive
Culture
Education
Environment
Globalization
Health
Human Rights
Media
Peace & Conflict
Technology


Important Disclaimer